Senin, 16 Agustus 2010

ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI


A.      Pengertian
        Epilepsi adalah suatu gejala atau manifestasi lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel neuron saraf pusat yang dapat menimbulkan hilangnya kesadaran, gerakan involunter, fenomena sensorik abnormal, kenaikan aktivitas otonom dan berbagai gangguan fisik (Doenges, 2000).
      Epilepsi grand mal merupakan istilah Perancis. Grand berarti besar, mal, sakit. Pada epilepsi ini penderita nyeri kepala, mendadak kehilangan kesadaran, terjatuh, kekurangan oksigen, kemudian kejang tonik klonik kurang labih selama 60 detik, air liur keluar melalui mulut, setelah sadar penderita mengeluh badan terasa pegal, relaksasi, hipertensi, bingung, lupa, dan mampu tertidur 2 jam (Markam, 1998).

B.       Etiologi
       Menurut Mansjoer (2000), etiologi dari epilepsi yaitu :
1.  Idiopatik
2.  Aquiret adalah kerusakan otak keracunan obat metabolik
3.  Trauma kepala
4.  Tumor otak
5.  Stroke
6.  Cerebral edema
7.  Hipoksia
8.  Keracunan
9.  Gangguan metabolik
10.  Infeksi

C.      Patofisiologi



Skema bab 2.1 patofisiologi (WWW. Khaidir Muhaj Blog`site.com)
       Menurut para peneliti bahwa sebagian besar kejang epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh adalah yang terdapar di bagian otak.
       Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mengakibatkan kejang epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis, walaupun mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi mereka menyebabkan tidak mampu mengakibatkan kejang epilepsi. Sampai saat ini belum terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk melepas muatan secara sinkron dan berlebihan.

D.      Tanda dan gejala
1.     Kejang umum
a.  Tonik gejala kontraksi otot, tungkai dan siku berlangsung kurang lebih 20 detik, dengan ditandai leher dan punggung melengkung, jeritan epilepsi selama kurang lebih 60 detik.
b. Klonik gejala spasmus fleksi berselang, relaksasi, hipertensi berlangsung kurang lebih 40 detik, dengan ditandai midriasis, takikardi, hiperhidrosis, hipersalivasi.
c.  Pasca serangan gejala aktivitas otot terhenti ditandai dengan penderita sadar kembali, nyeri otot dan sakit kepala, penderita tertidur 1 sampai 2 jam.
2 .  Jenis parsial
(1). Sederhana dengan tidak terdapat gangguan kesadaran
(2). Complex dengan gangguan kesadaran.

E.  Jenis dan klasifikasi
1. Grand mal (tonik klonik)
            Ditandai dengan gangguan penglihatan dan pendengaran, hilang kesadaran, tonus otot meningkat fleksi maupun ekstensi, sentakan kejang klonik, lidah dapat tergigit, hipertensi, takikardi, berkeringat, dilatasi pupil, dan hipersalivasi, kemudian setelah serangan pasien dapat tertidur 1-2 jam, penderita lupa, mengantuk,dan bingung.
2.    Petit mal
Kehilangan kesadaran sesaat, penderita dapat melamun, apa yang akan dikerjakan klien akan terhenti, penderita lemah namun tidak sampai terjatuh.
3. Infatile spasme
Terjadi pada usia 3 bulan sampai 2 tahun, kejang fleksor pada ekstermitas dan kepala, kejang terjadi hanya beberapa detik dan berulang, sebagian besar penderita terjadi retardasi mental.
4.    Focal
Terbagi atas tiga jenis :
a.  Focal motor yaitu Lesi pada lobus frontal.
b. Focal sensorik yaitu lesi pada lobus parietal.
c. Focal psikomotor yaitu disfungsi lobus temporal.

F. Penatalaksanaan
           Dibagi menjadi 2 pengobatan:
1.      Pengobatan kausal.
       Penyebab perlu diselidki terlebih dahulu, apakah penderita penyakit yang aktif misalnya tumor serebri, hematoma sub dural kronik, bila benar perlu diobati terlebih dahulu penyebab kejang tersebut.
2.      Pengobatan rutin.
       Penderita epilepsi diberikan obat anti konvulsif secara rutin, biasanya pengobatan dilanjutkan sampai 3 tahun, kemudian obat dikurangi secara bertahap dan dihentikan dalam jangka waktu 6 bulan. Pada umumnya lama pengobatan berkisar antara 2 - 4 tahun bebas serangan. Selama pengobatan harus di periksa gejala intoksikasi dan pemeriksaan laboratrium secara berkala.
Obat yang diberikan untuk kesemua jenis kejang yaitu
a. Fenobarbital, dosis 3-8 mg / kg BB / Hari
b. Diazepam, dosis 0,2-0,5 mg / kg BB / Hari
c. Diamox (asetazolamid) , dosis 10-90 mg / kg BB / Hari
d. Dilantin (difenilhidantoin), dosis 5-10 mg / kg BB / Hari
e. Mysolin (primidion), dosis 12-25 mg / kg BB / Hari
Bila menderita spasme infatil diberikan obat yaitu
a. Prednison, dosis 2-3 mg / kg BB / Hari
b. Dexamethason, dosis 0,2-0,3 mg / kg BB / Hari
c. Adrenokotrikotropin, dosis 2-4 mg / kg BB / Hari

G. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
seperti pemeriksaan darah rutin, darah tepi dan lainnya sesuai indikasi misalnya kadar gula darah, elektrolit. Pemeriksaan cairan serebrospinalis (bila perlu) untuk mengetahui tekanan, warna, kejernihan, perdarahan, jumlah sel, hitung jenis sel, kadar protein, gula NaCl dan pemeriksaan lain atas indikasi
2. Pemeriksaan EEG


              Gambar bab 2.1 pemeriksaan EEG
       Pemeriksaan EEG sangat berguna untuk diagnosis epilepsi. Ada kelainan berupa epilepsiform discharge atau (epileptiform activity), misalnya spike sharp wave, spike and wave dan sebagainya. Rekaman EEG dapat menentukan fokus serta jenis epilepsi apakah fokal, multifokal, kortikal atau subkortikal dan sebagainya. Harus dilakukan secara berkala (kira-kira 8-12 % pasien epilepsi mempunyai rekaman EEG yang normal).

3. Pemeriksaan radiologis

 
                Gambar bab 2.2 Foto tengkorak

         Foto tengkorak untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi tulang, kalsifikasi intrakranium yang abnormal, tanda peninggian TIK seperti pelebaran sutura, erosi sela tursika dan sebagainya.

       Pneumoensefalografi dan ventrikulografi untuk melihat gambaran ventrikel, sisterna, rongga sub arachnoid serta gambaran otak. Arteriografi untuk mengetahui pembuluh darah di otak : anomali pembuluh darah otak, penyumbatan, neoplasma dan hematoma.

H. Komplikasi
               Mengakibatkan kerusakan otak akibat hipoksia jaringan otak, dan mengakibatkan retardasi mental, dapat timbul akibat kejang yang berulang, dapat mengakibatkan timbulnya depresi dan cemas.                              

I.     Asuhan keperawatan  

Sumber teoritis yang ada pada klien epilepsi, didapatkan pengkajian berdasarkan dari sumber (Doenges, 2000).

1. Pengkajian
        a.  Aktivitas dan istirahat
       Gejala yaitu keletihan, kelemahan umum, keterbatasan dalam beraktivitas yang ditimbulkan oleh diri sendiri atau orang lain.
Tanda yaitu perubahan tonus, kekuatan otot, gerakan involunter,  kontraksi otot atau sekumpulan otot.
             b. Sirkulasi.
       Gejala yaitu iktal : hipertensi (tekanan darah tinggi), peningkatan nadi, sianosis, tanda-tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.
c. Integritas ego.
              Gejala yaitu stressor eksternal atau internal yang berhubungan keadaan dan atau penanganan peka rangsang, perasaan tidak ada harapan dan tidak berdaya, perubahan dalam berhubungan.Ditandai dengan pelebaran rentang respon emosional.
d. Eliminasi.
              Gejala yaitu inkontinesia, ditandai dengan iktal : peningkatan tekanan kandung kemih, dan tonus sfingter, postiktal : otot relaksasi yang mengakibatkan inkontinensia baik urine maupun fekal.
e. Makanan dan cairan.
             Gejalanya yaitu sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. Ditandai dengan kerusakan jaringan lunak dan gigi (cedera selama kejang).
f. Neurosensori
              Gejalanya yaitu riwayat sakit kepala, kejang berulang, pingsan, pusing dan memliki riwayat trauma kepala, anoksia, infeksi cerebral, adanya aura (rangsangan audiovisiual,auditorius, area halusinogenik). Ditandai dengan kelemahan otot, paralisis, kejang umum, kejang parsial (kompleks), kejang parsial (sederhana).
g. Nyeri dan kenyamanan
              Gejalanya yaitu sakit kepala, nyeri otot, nyeri abnormal paroksismal selama fase iktal. Ditandai dengan sikap atau tingkah laku yang hati-hati, distraksi, perubahan tonus otot.
h. Pernafasan.
              Gejalanya yaitu fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan cepat dan dangkal, peningkatan sekresi mucus, fase postiktal apnea.
i. Keamanan
              Gejalanya yaitu riwayat terjatuh, fraktur, adanya alergi. Ditandai dengan trauma pada jaringan lunak, ekimosis, penurunan kesadaran, kekuatan tonus otot secara menyeluruh.
j. Interaksi sosial
              Gejalanya yaitu terdapat masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau lingkungan sosialnya melakukan pembatasan, penghindaran terhadap kontak sosial.
k. Penyuluhan dan pembelajaran.
              Gejalanya yaitu adanya riwayat epilepsi pada keluarga, penggunaan obat maupun ketergantungan obat termasuk alkohol.

2. Diagnosis keperawatan
           Diagnosa yang didapat berdasarkan sumber dari
           (Doenges, 2000)
  a. Resiko tinggi terhadap trauma dan henti nafas berhubungan  dengan perubahan kesadaran, kelemahan, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil.
  b. Gangguan harga diri,identitas diri berhubungan dengan persepsi tidak terkontrol, ditandai ketakutan, dan kurang kooperatif tindakan medis.
   c. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman, salah interpretasi informasi, kurang mengingat.

3. Perencanaan keperawatan
           Perencanaan yang didapatkan berdasarkan sumber dari (Doenges, 2000)
          a. Resiko tinggi terhadap trauma dan henti nafas berhubungan  dengan perubahan kesadaran, kelemahan, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil.
 1).  kaji pencetus munculnya kejang pada pasien
            Tujuannya yaitu serangan kejang terkontrol
            Rasionalnya yaitu alkohol, berbagai obat, dan stimulasi lain    (kurang tidur, lampu yang terang, menonton televisi terlalu lama), dapat meningkatkan aktivitas otak yang selanjutnya meningkatkan resiko terjadinya kejang.
  2). Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur    yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah.
            Rasionalnya yaitu  mengurangi trauma saat kejang.
       3). Awasi aktivitas klien setelah kejang terjadi
               Rasionalnya yaitu meningkatkan keamanan pasien
         4). Catat tipe dari aktivitas kejang pasien seperti lokasi, durasi,     motorik, penurunan kesadaran, inkontinensia.
            Rasionalnya yaitu membantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena.
b . Bersihan jalan nafas dan pola nafas tak efektif berhubungan dengan kerusakan nuromuskuler obstruksi trakeobronkial.
1)        Anjurkan klien melepas penggunaan benda-benda dari dalm mulut, contoh gigi palu dan lainnya.
Rasionalnya yaitu menurunkan resiko aspirasi atau masuknya  benda asing ke faring.
2).  Letakkan pasien dalam posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang terjadi.
       Rasionalnya yaitu meningkatkan aliran drainase secret, mencegah lidah jatuh, dan menyumbat jalan nafas.
3).  Lepaskan pakaian pada bagian leher, dada dan abdomen klien.
       Rasionalnya yaitu untuk membantu usaha bernafas klien.
4).  Masukkan spatel lidah kedalam mulut klien
       Rasionalnya yaitu untuk mencegah tergigitnya lidah dan membantu melakukan peghisapan lender, dan membantu membuka jalan nafas.
5) . Lakukan suction sesuai indikasi
       Rasionalnya yaitu menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia.
6).   Kolaborasi dalam pemberian tambahan oksigen
       Rasionalnya yaitu dapat menurunkan hipoksia serebral, akibat dari menurunnya oksigen akibat spasme vaskuler selama kejang.
c.   Gangguan harga diri,identitas diri berhubungan dengan persepsi tidak terkontrol, ditandai ketakutan, dan kurang kooperatif tindakan medis.
1).  Kaji perasaan pasien mengenai diagnostik, persepsi diri terhadap penanganan yang dilakukan terhadap pasien.
       Rasionalnya yaitu reaksi yang ada diantara individu dan pegetahuan merupaka awal dari penerimaan klien terhadap tindakan medis.
2).  Identifikasi dan antisipasi kemungkinan reaksi orang lain pada keadaan penyakitnya.
       Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan untuk berespon pada proses pemecahan masalah dan memberikan kontrol terhadap situasi.
3). Kaji respon pasien terhadap keberhasilan yang diperoleh, atau yang akan dicapainya dari kekuatan yang dimilikinya.
       Rasionalnya yaitu memfokuskan pada aspek positif dapat membantu untuk menghilangkan perasaan dari kegagalan atau kesadaran terhadap diri sendiri dan pasien menerima penanganan terhadapnya.
4).  Diskusikan rujukan kepada psikoterapi dengan pasien atau orang terdekat.
       Rasionalnya yaitu kejang mempunyai pengaruh yang besar pada harga diri seseorang dan pasien, orang terdekat, akibat mungkin munculnya stigma dari masyarakat.
d.   Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman, salah interpretasi informasi, kurang mengingat.
1).  Kaji tingkat pengetahuan pasien terhadap jenis penyakitnya
Rasionalnya yaitu mengetahui sebatas kemampuan klien dalam memahami jenis penyakitnya agar lebih kooperatif akan pemahaman klien pentingnya pencegahan,pengobatan dan sebagainya.
2).  Jelaskan kembali mengenai patofisiologi atau prognosis penyakit, pengobatan, serta penenganan dalam jangka waktu panjang sesuai prosedur.
       Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang diderita.
3).  Tinjau kembali obat-obatan, dosis, petunjuk, serta penghentian penggunaan obat-obatan sesuai instruksi dokter.
       Rasionalnya yaitu akan menambah pemahaman klien terhadap kondisi kesehatan yang diderita.
4). Diskusikan manfaat dari keehatan umum yang baik, seperti diet yang adekuat, istirahat yang cukup, serta latihan olah raga yang sedang dan teratur, serta hindari makanan adan minuman yang mengandung zat yang berbahaya.

4. Pelaksanaan keperawatan
       Merupakan komponen dari proses keperawatan (Potter & Perry, 2005) adalah kategori dari perilaku keperawatan di mana tindakan yang di perlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang di perkirakan dari asuhan keperawatan di lakukan dan di selesaikan. Sudut pandang teori, implementasi dari rencana asuhan keperawatan mengikuti komponen perencanaan dari proses keperawatan. Namun demikian, di banyak lingkungan perawatan kesehatan, implementasi mungkin dimulai secara langsung setelah pengkajian. Sebagai contoh, implementasi segera diperlukan ketika perawat mengidentifikasi kebutuhan klien yang mendesak, dalam situasi seperti henti jantung, kematian mendadak dari orang yang dicintai, atau kehilangan rumah akibat kebakaran.

5. Evaluasi
       Evaluasi merupakan proses keperawatan mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan (Potter & Perry, 2005). Evaluasi terjadi kapan saja perawat berhubungan dengan klien. Perawat mengevaluasi apakah perilaku atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnose keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat. Selama evaluasi, perawat memutuskan apakah langkah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan menelaah respon klien dan membandingkannya dengan perilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan.

6. Dokumentasi keperawatan
            Merupakan sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan, salah satu contoh meliputi catatan hasil pengkajian, perencanaan, serta hasil implementasi dari terapi keperawatan, medis, mandiri, yang telah dilakukan terhadap klien, merupakan suatu bukti bagi individu yang berwenang, baik itu dari sudut pandang tanggung jawab perawatan pasien dan dari sudut pandang hukum (Potter & Perry, 2005).



DAFTAR PUSTAKA



                Doenges, M.E. Moorhouse M.F., Geissler A.C., (2000) Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC.

Engram Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, Jakarta, EGC.

Hidayat. (2009).   http://hidayat2.wordpress.com. diakses pada tanggal 17 juli 2010.

               Ikhsan, T (2009) http://pengobatanpenyakitepilepsi.blogspot.com
diakses pada tanggal 17 juli 2010.

   Ikhsan, T (2009).  http://perawat-gaul.blogspot.com
diakses pada tanggal 17 juli 2010

Khaidir. (2009).  http://khaidirmuhaj.blogspot.com  di akses   pada tanggal 17 juli 2010.

     Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima medika.

Potter & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1. Jakarta: EGC

Resa B. (2010). Epilepsi http://www.scribd.com diakses pada tanggal 17 juli 2010

Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC



1 komentar:

  1. Tolong kunjungii my blog saya yah... putthera-rammadhann.blogspot.com

    BalasHapus